IndoSing-Mums

Menghirup Udara Singapura: Kisah NyataJuly 24, 2005 12:23 am

Kok Mbak Sera tahu? Iya, dia bilang dia masuk di kelas basic..Btw, apa banyak selain Mbak Shinta, mbak Sera dan Mbak Lia yg ngajar di embassy?.. Kalo gini, kayaknya malah lebih seneng ya… lebih tenang, karena pasti keliatan kan kalo asistenku itu datang atau ngga… mungkin lebih baik kontak mbak Lia aja ya, lebih gampang… Nanti aku e-mail mbak Lia ya, setiap asistenku itu pergi ke KBRI… terima kasih banyak…

Asistenku ini lebih tua usianya dari aku…Sudah menikah dan punya anak… Jadi kalo dibilangin suka agak2 ngga terima.. Jadi dua bulan yg lalu dia ke KBRI dengan make up dan lebih rapi dari biasanya.. Kita serumah jadi deg2an… mau dibilangin jangan menor2 keluar rumah, kok ngga enak… Cuma saya dan suami jadi takut juga, kalo dia bukan ke
KBRI tapi malah kemana2, kan bahaya…

Suamiku sangat concern karena waktu PRT mertuaku itu hamil dan melahirkan disini, dia yg kebagian ngurus kemana2.. walaupun kita sangat surprise dan seneng karena ada orang yg mau adopsi bayi si PRT, tapi proses adopsinya sangat tidak mudah… Sampai suamiku harus cuti lebih dari seminggu, dan tiap jam makan siang harus bolak-balik KK,
MOM, Imigrasi Singapore, KBRI… intinya ngerepotin banget… Ditambah lagi, karena proses ngurus adopsinya lama, PRT ini harus tinggal di singapur dan kita harus bayar levy-nya selama 2 bulan, menanggung biaya makan dia, beli baju bayi, susu, pampers, dll… sedangkan dia tidak bekerja sama sekali karena baru melahirkan, badannya masih lemah… pengeluaran lainnya adalah, kita harus membayar gaji pembantu part-time, karena mertuaku itu sudah sakit2an… kebayang kan berapa banyak waktu, tenaga dan materi yang harus kita sekeluarga korbankan karena perbuatan PRT ini…

Makanya suamiku wanti2 sekali, waktu aku mau ambil PRT buat kita sendiri, aku harus bertanggungjawab sepenuhnya, dan jangan sampai kejadian serupa terulang… that’s why aku ambil PRT yg sudah menikah… aku cuma berharap asistenku ini bisa menjaga kepercayaan kita sekeluarga… dan juga kepercayaan suami dia di kampung…

salam dan terimakasih atas bantuannya,
Inggrid

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 12:21 am

Mbar……….

Yang lebih kasian lagi, mereka kan kalau mau berangkat ke singapur harus melalui agen di Indonesia, dan harus membayar sekitar 1 jutaan++ udah gitu disana, dipenampungan mereka menanti tanpa dibayar beberapa bulan hingga urusan dokumen2nya jadi, ada yg cepet ada yg lama. Ditempat penampungan (di Indonesia) mereka disuruh kerja ini
inu……, sedangkan kalau mereka punya keperluan ya harus mengeluarkan uang pribadi.

Bayangin aja, udah keluar uang buat agen di Indonesia, begitu sampai di Singapura mereka gajinya juga dipotong oleh agency disini selama kira2 6bln, employer cuman kasih ke maid max $10 aja.

Yang herannya lagi, kok ada agency di sini yang suka bilang, pada saat kita mau ambil maid via agency, si agent bilang kalau maid ini ada tunggakan loan yg jumlahnya cukup lumayan, kadang2 katanya $1500-$2000. Kapan para maid itu berhutang……….!, apa ini cuman alasan agency untuk motong2 hak maid? Terlalu juga sih.

Belum lagi ada yang bilang, masih dipotong uang ‘nakal’ $100 selama 3-5bln, dipotong oleh majikan, maksud mereka adalah kalau sebelum 3 bln mereka enggak perform, jadi uang itu bisa dipakai untuk tiket pulang langsung ke kampung, tapi kalau dalam setahun si maid enggak ‘nakal’ seperti yang dimaksud para local employer, uang itu akan diberikan
kembali ke maid, tapi enggak tau masih berlaku nggak uang nakal ini, tahun lalu sih masih ada.

Jadi memang kasian ’sungguh’ nasib mereka yang merantau ini. Tapi mereka yang udah pada betah kadang2 mereka dipulangin juga enggak mau, karena udah banyak teman, atau udah cocok dengan ‘boss’ nya, atau sudah bisa memanfaatkan ‘celah’.

yuuk ah Mbar,

Nita@bishan291

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 12:20 am

Hari Jumat kemarin saya kembali dari mudik. Di bandara Cengkareng saya bertemu dua ibu ini. Yang kiri adalah Ibu Muslidhah dari Demak Jateng yang telah menjadi TKI di Kuala Lumpur selama 6 tahun. Dan sebelah kanan adalah Ibu Kasinah dari Cilacap yang akan mengadu nasib di Singapura. Saya menawarkan diri mengantar mbak Kasinah hingga Changi untuk bertemu agennya. Dari mereka banyak hal saya pelajari terutama ttg pengelolaan TKI. Secara kebetulan masalah ini lagi rame dibahas di IndoSing-Mums. Percakapan dilakukan dalam bahasa Jawa (bercampur aksen Cilacap).

Ibu Muslidhah mengaku baru pulang 2 kali dalam kurun enam tahun karirnya. Untunglah anak2 yang ditinggalkannya sudah cukup besar. Gaji perbulannya adalah 450RM yang sudah dianggap sangat lumayan ketimbang new comer yang sekitar 380RM. Untuk menjadi TKI harus siap2 dipotong gaji dalam kurun waktu tertentu. Biasanya antara 5-8 bulan. Dan tak tanggung2 potongan itu bisa 100% !!! Jadi dalam beberapa bulan tidak ada uang untuk dikirim ke keluarga di Indonesia.

Ibu Kasinah ini lain lagi. Untuk menjadi TKI di Sing, ia harus lulus test untuk mendapatkan work permit permanen. Test tertulis itu berupa tugas2 seorang pembantu dalam bahasa Inggris. Saya sempat ditunjukkan berkas itu dengan format multiple choices dengan bahasa Inggris yang sederhana. Oleh agennya (yang ternyata juga orang Indonesia di Sing),
ia dicarikan work permit temporary selama 90 hari dari MOM (Ministry of Manpower). Dalam kurun itu ia harus mampu lulus test atau jika gagal akan dibuang ke Batam.

Sebuah foto anak kecil ditunjukkan. Gambar anak laki2 yang sangat lucu sambil berpose. Itu anaknya yang laki2 berumur 4 th sedang anak kembarnya memasuki masa SMA. Kemauannya untuk menjadi TKI karena ingin mendapatkan pendidikan yang layak untuk mereka. Penghasilan sang suami sebagai nelayan sangatlah tidak mencukupi.

Sungguh…saya terharu.

http://ambarbriastuti.blogspot.com

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 12:17 am

Dear moms,

Ih bergidik deh mbaca story2 tentang PRT ini. Ada pengalaman juga sama PRT gak ‘nggenah’ ketika hire part time maid 2 hari pas pindahan lalu, kerjanya lamban, males n sukanya smsan n terima telpon mulu. Ternyata emang dia pacaran sama pakistan n pikirannya seperti terbuai filem bollywood, cerita kepengen ikut cowonya kesono. Jelas dia gak mikir tentang gimana hukumnya negara itu apa bisa dia tinggal sana n mimpiin enaknya kalo hidup di LN.Akhirnya sampe capek sendiri ngomelin dia.

Bener emang kata mbak Nita dilemma PRT ini udah kaya benang kusut aja, masalah utamanya ya memang pendidikan, kepepetnya sikon dan ekonomi mereka. Mudah2an seiring dengan waktu dan belajar dari pengalaman ‘kejadian2′ bisa makin baik n profesional.

Buat Inggrid, Salam kenal ya, pernah dengar namanya dari Shinta. Iya aku pernah ketemu asisten Inggrid pas Shinta masih ikut ngajar. tapi karena tiap bulan pesertanya nambah n juga ada yang keluar masuk, kita gak pakai absensi.InsyAllah akan saya sampaikan pihak KBRI untuk memberikan bukti hadir untuk kursus tsb. Terima kasih atas usulnya.

Buat Kandy, Mudah2an Hanifa sudah sembuh yaa…take care n jaga kondisi juga. Emang, Ibu2 pasti paling risau kalo anaknya sakit.

Juga salam kenal n selamat bergabung utk member baru.

Wassalam,
Lia

Menghirup Udara Singapura: Kisah NyataJuly 21, 2005 12:55 am

Mengenai Pembantu, saya juga pingin berbuat sesuatu gitu..tapi gak tau jalurnya. Saya sendiri pernah ada problem dengan pembantu; Yang satu kerja 6 bulan sama saya, trus waktu medical untuk w. permit, eeeh dia hamil 3 bln. Setelah saya tanya dia bilang hamil dengan anak Myanmar yang ngecat Appt saya. Watu itu saya tinggal balik kampung trus suami juga sering travel eeeh malah masukan tukang cat & berbuat yang gak senonoh..setelah dia tahu hamil, dia mau bunuh diri kayak orang hilang ingatan. Saya sampai gak tidur 2 mlm jagain dia (takut bunuh diri di rumah gue). Saya mo marahpun gak tega kalo ngliat dia udah kayak gak ada niat hidup lagi. Dia coba telpon pacarnyapun yang angkat dah cewek lain. Dia sempat meminta saya bantu gugurin bayinya, tapi saya gak mau ikut nanggung dosa, jadi yaa terpaksa pulang ke Indo. Yang jadi pikiran, saya masih terima surat dari orang tuanya, saya takut dia gak pulang..

Pembantuku yang lain pernah bekerja di rumah orang yang mati di bakar di kantornya bersama dengan anaknya. Jadi saya beberapa kali antar pembantuku ke kantor polisi untuk di mintai keterangan mengenai sifat bekas majikannya.

Saya pernah baca di koran, kalau ada pembantu Indo yang suka bantu sesama pembantu dengan cara kasih nasehat pada teman yang ada masalah (sebulan hp dia bisa kena sampai $300). Kadang berpikir, alangkah baiknya kalau kita nih sesama Indo & “BOSS” bisa bantu menyumbang pikiran untuk para pembantu yang ada masalah.

Wassalam,
Dilla

Menghirup Udara Singapura: Kisah NyataJuly 20, 2005 8:23 am

passportnya sih sama, ama kita,say..
cuma para TKW ini biasanya dibikinin yg 24 halaman, dan di halaman belakang, ada 1 bagian Notes yg diisi-in siapa nama PJTKI,dll..jadi kalau di imigrasi akan ketauan dia ini TKW apa bukan..(kalau screeningnya dari penampilan,diriku sering bgt ‘dipaksa’ untuk menuju pintu keluar khusus TKI..hehe..pdhal disebelahku ada suami,mungkin pegawai imigrasi ini mengira,diriku diantar oleh ‘my boy friend’ dari bangladesh ato pakistan..hehe..)

mungkin masalah passport TK ini bisa kita ajukan complainnya dengan sms pak SBY.:)
sama satu lagi yg baru saya tahu, misalnya seorang TKI sehabis kontrak gak melanjutkan kerja,pulang ke indonesia. suatu saat mau berangkat lagi,walopun passportnya belum expired,dia harus bikin passport baru lagi..gak tau deh,ini permainan oknum agen PJTKI atau oknum imigrasi ya?

wassalaam,
-ellen-
yang juga tenaga kerja indonesia di singapura

— In IndoSing-Mums@yahoogroups.com, D D wrote:
> Yah Ellen….aku juga pernah denger keluh-kesah mereka
> kalo pulang ke bandara suka dipelorotin duitnya ama
> imigrasi indonesia.
> Denger2 sih passport TKW beda dengan passport yang
> kita punya. Passport TKW biasanya lebih tipis katanya.
> Ini juga dapet gossip dr PRT atas dan bawah rumahku
> :D .
> Jadinya imigrasi kita….bisa tau deh kalo itu TKW.
> Biasanya mereka lewat Batam kalo pulang. Jadi mereka
> safe ngga dipelorotin duitnya. Kalo pulang lewat
> Jakarta…………wah….kasian deh :( .

>–Ari–

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 8:21 am

untuk pembantu indon tidak adakah policy yg mengHARUS kan adanya ‘day off’ seperti filipino..betulkah? maksudku policy dari pemerintah kita sendiri yg support

menurutku ini yg paling penting sebab alasan2 mrk para employer/agents tidak memberi day off, terlepas deh para prt pake untuk apa day off nya, adalah karena memang tidak ada di perjanjian kontraknya(?)..so kalaupun diberi day off berarti atas kebaikan hati employer? hmm repot ya

aku hanya teringat presiden filipina kalau datang ke SG mrk nyempet2in kumpul2 bersama dg para prt mrk and support organisasi prt mrk yg ada disini, big gathering sperti big party gitu…perasaanku siih pejabat indo kalao datang lebih lama di orchard atau ke zoo, dll…

dari tulisan irma ttg pendidikan dan atitude prt..jadi teringat prt2 para tetangga2 ku..ada yg super pandai bisa mengurus rumah tangga majikan nya plus anak banyak single handedly lho sehingga si maam bisa tugas overseas dg “tenang”… (atau ini another time bomb ;( atau ada juga yg jadi ‘prt’nya drpd prt filipino, jadi ada nih yg punya 2 maid, 1 filipino and 1 indo, nah yang indon ini buat disuruh2 sama si filipino..aduuh nelangsa deh lihatnya..but nothing I could do
what ;( sebab…aku lihat sendiri prt2 indon baik yg pandai maupun yg kurang “kebanyakannya” punya atitutd di depan majikan lain dibelakang majikan lain ..jadilah atitud prob, kadang walaupun prt kurang pandai tidak mengapa asalkan dia trustworthy nah ini yg susahnya ..

btw, prt yg aku lihat ini si filipino kelakuannya profesional (at least yg aku lihat ga pernah nelfon2, ga ngomong banyak2 kerja aja terus aja macam factory worker gitu, depan belakang majikan kelakuan dia sama..nah yg prt indo agak payah seperti nunduk2 depan majikan tapi nanti majikan tidak ada wah musik dangdut indo very loud..duduk
di meja makan kaki naik sila di kursi.. ada lagi yg bawa anak batita employernya, nah si maid nih saban hari
gw lihat nelfon lama2 +berkali2 di public phone waah pokoknya kasihan deh tuh anak majikannya

so kalo maid spt ini ..waduuh.. gimana ya..

salam prihatin prt
rini di pasir ris

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 8:19 am

‘asisten’ku sebelumnya,pertama2 gak mau loh aku kasih day off sebulan sekali (dari maid agency malahan gak ada day off).alesannya,meding di rumah aja katanya..
tapi beberapa bulan kemudian dia berubah pikiran, bbrp kali dia minta ijin keluar rumah hari minggu..tapi sayangnya,bukan buat ke kbri,tapi jalan2 ke orchard sama temen2nya..
ya gpp sih, dia juga punya hak untuk leissure timenya…tapi akhirnya, aku dan suami jd ‘cemas’,suatu hari pas aku lagi MC di rmh,terima telpon buat asistenku itu dari seorang cowok bangladesh…
sebenernya masalah telpon ini bukan yg pertama.ada temennya, perempuan,saban hari rajin banget telpon ke asistenku ini..so far yg ketahuan sih emang terima telpon, bukan nelpon..tapi tetep aja,lama2 jd kesel karena sering temennya itu gak tau waktu dan sehari bs berkali2 nelpon ke rmh..dan berkali2 juga kami minta asistenku itu buat ngasih tau temennya, tetep aja gak ngaruh..

eh,jadi curhat…:)
tapi so far,selama 18 bulan dia kerja di kami,cukup puas dgn hasil kerjanya.kebetulan asistenku ini lulusan asisten perawat (setara smp),dan pernah kerja ngurus orang jompo,jd buat ngurus bayi lumayan telaten.walaupun awal2 kerja,belum bs masak,tp cepet nyerep apa yg diajarin..malahan jadinya pinteran doi klo bikin risoles :p
cuma sayangnya,seumuran dia lagi masa puber,akhirnya dia mutusin pulang untuk nikah..

back to the topic,aku setuju dgn yg dibilang hany..kalau kita disini terikat dengan hukum singapur yg asing..jd sebaiknya aksi yg t’kait dgn membantu para PLRT harus membawa nama resmi spt KBRI..
pernah di suatu shopping centre,ada PLRT yg kabur begitu aku ajak ngomong,karena dia bilang takut ketauan ama majikannya :(

mungkin kita bs kasih saran ke KBRI,supaya KBRI aktif ngasih penyuluhan ke maid agency (eh,atau udah ya..),mensosialisai pentingnya ngasih day off at least sebulan sekali buat indonesian maid.karena employer akan ngerasa punya pembenaran,krn ketika di awal ngambil maid,agency ini yg bilang: this maid no have day off :(

yg lain, dan ini butuh keberanian : dateng ke city plaza,atau marina centre saban hari minggu,nyebarin kertas yg isinya useful tips buat maid..
termasuk juga tips bagaimana di bandara kalau pulang ke indonesia..aku gemessss banget nih,kayaknya kok org2 di bandara ini gak ubahnya kayak lintah darah,yg enaaak bgt ngisep duit TKW yg didapet dengan bekerja >12 jam sehari :( (

wassalaam,
-ellen-

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 8:17 am

Ikutan…

PRT/maid termasuk masyarakat yg kurang beruntung, low educated n economy. Kalo masalah attitude ya ga semua yg low educated lamban n males, semua tergantung orangnya. Juga ga semua majikan bisa cocok n baik sama maidnya. Menurutku ada tipe2 maid dari berbagai pengamatan nih:

- yg rajin kerja, cerdas n Sopan, sepertinya ini tipe idaman para employer ya.
- yg rajin kerja, bloon, n Sopan, meski baik tapi musti kasi order berulang2.
- yg rajin, cerdas n gaul, bisa manfaatin majikan buat kasi kursus, spt maid yg pernah kukenal gajinya lumayan gede n punya banyak sertifikat kursus n english oke bo!
- yg males, sok pinter n Gaul,ini nih biasanya suka ngelunjak.

bisa di bikin bbrp turunan utk tipe2 lain hehehe…

Sepertinya kita bisa tolong temen2 PRT ini buat memperjuangkan, merayu, mem’persuade’ untuk minta ‘day off’ paling tidak 1 bln sekali utk ikut kursus di KBRI.
Pengalaman saya tidak saja meyakinkan PRTnya tapi yang paling susah meyakinkan majikannya utk kasi ‘day off’. Biasanya saya cuma bilang tolong buka website KBRI, ada info ttg kursus tsb www.kbrisingapura.com

Tapi ada juga yang mereka dikasi ‘day off’ namun waktunya malah buat gaul n nongkrong di Plaza n akhirnya ngedate sama Bangladesh or India.

Pernah diinfokan dari P.Fachry kalo PRT indonesia di spore itu mencapai 20ribuan orang tapi yang datang kursus di KBRI cuma sekitar paling banyak 400an, nah cuma berapa persen tuh!?

FYI, ada beberapa kursus yg bisa diinfokan utk PRT indo tiap bulannya:
- Minggu pertama di KBRI dan Darul Arqam
- Minggu Kedua di Masjid Sultan
- Minggu Ketiga di KBRI

wassalam,
Lia (pengamat masalah PRT)

Menghirup Udara Singapura: Kisah Nyata 8:15 am

Dear All,

Saya jg nelongso kalau denger crita PRT kita dianiaya dsb. Tp memang education level PRT itu diragukan. Saya
punya temen yg kerja di tempat pelatihan calon PRT di jakarta, mereka itu even ga tau baca tulis, mungkin lulus SD saja enggak. Untung dengan peraturan yg baru diwajibkan PRT bisa Bahasa Inggris. Tp itu jg, pasti bisa diakal akalin deh sama agency diIndonesia.

Filipino PRT rata rata very well educated dan bisa Bahasa Inggris. Selain itu mereka sudah punya ‘SOLID ORGANIZATION’ yang membantu Filipino PRT untuk develop their skill, jg fighting for their sunday off, trus mbantu mereka kalo ada masalah.

PRT kita?? Wassalam deh. Pergi ke kedutaan katanya malah diomelin bikin masalah aja (katanya lho).

So, what shall we do know???

Salam kenal

Coni